Jangan Takut Berbeda

Bunda Linda
0

 Al Ulum, 29 September 2025



Bergaul dengan anak remaja, kita memang tidak bisa menolak untuk masuk ke dalam dunia mereka. Gen Z yang tidak mau percaya begitu saja dengan apa yang kita minta, dunia mereka penuh  tanda tanya dan harus mendapat saluran untuk bisa didengar dan dimengerti.


Sebagai bentuk penyaluran kritisnya mereka, maka pada MABIT kali ini, kita membuka satu sesi yang kita beri tajuk "jangan takut berbeda", dimana mereka mendapat ruang untuk saling menyalurkan pendapat terhadap satu topik yang hangat untuk diperbincangkan.

Delapan kelompok yang ada diberi kesempatan memilih satu topik untuk didiskusikan, satu kelompok di pojok pro dan di sisi lain adalah kelompok kontra dengan topik tersebut.

Topik pertama yang diangkat adalah "Pergaulan Remaja diberi ruang atau dilarang", disisi pro mereka memberikan pendapat bahwa pergaulan remaja saat ini sangat dibutuhkan agar remaja bisa berkembang sesuai dengan zamannya, sementara di sisi kontra, mereka mencermati pergaulan remaja zaman now gampang terpengaruh untuk terjerumus dalam pergaulan yang belum pantas, termasuk hubungan khusus lak-laki dan perempuan.


Topik kedua yang diangkat adalah "Pengawasan HP oleh orang tua", kedua kelompok saling adu argumentasi untuk batasan sejauh mana HP remaja diawasi dan dibatasi. Menurut kelompok pro pembatasan, karena orang tua bertanggung jawab atas semua konten yang diakses oleh anaknya, sementara yang kontra dengan pendapat tersebut, jika remaja terlalu diawasi, maka remaja menjadi tidak percaya diri dan tidak bertanggungjawab dengan dirinya sendiri, beri kami ruang untuk memilih dan memilah apa yang baik dan buruk sesuai arahan orang tua dalam bingkai Al Qur'an dan sunah.


Sesi yang paling heboh saat masuk topik "Reward dan punisment, perlu atau tidak", kedua kelompok berdiskusi dengan sangat luar biasa, saling memberikan pendapat, tidak setiap prestasi harus diberi reward, dan tidak setiap kesalahan harus mendapatkan punishment, benang merah yang dapat ditarik adalah, jangan jumawa ketika mendapatkan reward, jangan patah ketika mendapatkan punishment, karena hidup tidak bisa kita atur sesuai dengan kemauan kita.

Sebagai penutup, untuk topik keempat "Mendidik dengan Keras", ada kalimat menyentuh yang bisa menjadi kebaikan untuk semua, bahwa jika ada yang mendidik kita dengan keras, maka percayalah itu akan membentuk mental kita menjadi semakin kuat, namun disisi lain, mereka berharap, pandanglah kami sebagai anak yang bisa memahami, mengerti dengan larangan, beri kami alasan logis untuk semua harapan dan larangan, menegur kami tidak harus dengan keras, tapi tegas dan sabarlah dalam mendidik kami.

Usai tampil dalam diskusi ini, kelompok terakhir nyeletuk "kok cepat kali Bun... Kapan-kapan buka sesi begini lagi ya, Bunda dan perwakilan kelompok saling bersilang jari kelingking untuk menindaklanjuti janji ini.

Alhamdulillah, sesi debat yang dipandu Bunda dan Ust Hairul selalu diberi penegasan, bahwa debat ini sebatas debat panggung tanpa ada celah di bawah panggung untuk didiskusikan, setiap kelompok yang selesai berdiskusi hangat, selalu ditutup dengan bersalaman di setiap sesinya.

Semoga ini menjadi pembelajaran yang berharga, bahwa kami orang dewasa mencoba memasuki dunia mereka dan memberi ruang untuk mereka menyampaikan pendapat dengan cara yang ahsan.

Barakalllahu fiikum

#karenaCINTAday3








Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default